Resiliensi Kultural Komunitas Salafi Bandung: Negosiasi Manhaj Puritan dan Fikih Al-Bi’ah di Tengah Krisis Ekologi Urban
Keywords
resiliensi kultural, komunitas Salafi, fikih al-bi'ah, krisis ekologi urban, Bandung.
Abstract
Krisis ekologi urban di kota-kota besar Indonesia semakin mendesak perhatian berbagai komunitas keagamaan untuk merumuskan respons yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga normatif dan kultural. Komunitas Salafi, yang secara dominan dikenal dengan orientasi teologis puritan berbasis manhaj salaf al-shalih, selama ini jarang dikaji dalam konteks isu lingkungan. Penelitian ini hadir untuk mengisi celah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bagaimana komunitas Salafi di Kota Bandung menegosiasikan manhaj puritan mereka dengan tuntutan praksis ekologi urban melalui kerangka fikih al-bi'ah, serta mengidentifikasi bentuk- bentuk resiliensi kultural yang dihasilkan dari negosiasi tersebut. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan dari komunitas Salafi di Bandung yang terlibat langsung dalam program-program ekologis berbasis masjid. Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama: pertama, praktik fikih al-bi'ah dioperasionalisasikan melalui kebijakan kajian berbasis gaya hidup minim sampah seperti larangan membawa kemasan plastik sekali pakai; kedua, eco pesantren di Selacau, Tasikmalaya menjadi laboratorium pengelolaan limbah berbasis nilai Islam; ketiga, program donasi pakaian syariat menjadi instrumen sirkulasi ekonomi komunitas yang berwatak ekologis; dan keempat, gerakan bebas sampah pada kegiatan buka puasa bersama di masjid Ihya Al-Sunnah merepresentasikan praksis ibadah ekologis. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa komunitas Salafi Bandung memiliki kapasitas resiliensi kultural yang bersumber dari reinterpretasi sumber normatif internal Islam, dan tidak bersifat pasif terhadap tekanan ekologi urban. Kontribusi akademik penelitian ini terletak pada konsep "resiliensi puritan adaptif" sebagai kategori analitik baru dalam kajian Islam dan lingkungan di Indonesia.
References
- Al-Qaradawi, Y. (2001). Ri'ayat al-bi'ah fi syari'at al-Islam. Dar al-Shuruq.
- Ananta, A., Arifin, E. N., Hasbullah, M., Handayani, N. B., & Pramono, A. (2018). Demography of Indonesia's ethnicity. Institute of Southeast Asian Studies.
- Berkes, F. (2017). Sacred ecology (4th ed.). Routledge.
- Bonanno, G. A. (2004). Loss, trauma, and human resilience: Have we underestimated the human capacity to thrive after extremely aversive events? American Psychologist, 59(1), 20–28. https://doi.org/10.1037/0003-066X.59.1.20
- Braun, V., & Clarke, V. (2019). Reflecting on reflexive thematic analysis. Qualitative Research in Sport, Exercise and Health, 11(4), 589–597. https://doi.org/10.1080/2159676X.2019.1628806
- Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.
- Fealy, G., & White, S. (Eds.). (2008). Expressing Islam: Religious life and politics in Indonesia. ISEAS Publishing.
- Gerten, D., & Bergmann, S. (Eds.). (2012). Religion in environmental and climate change: Suffering, values, lifestyles. Continuum.
- Guest, G., Bunce, A., & Johnson, L. (2006). How many interviews are enough? An experiment with data saturation and variability. Field Methods, 18(1), 59–82. https://doi.org/10.1177/1525822X05279903
- Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. SAGE Publications.
- Hasan, N. (2006). Laskar Jihad: Islam, militancy, and the quest for identity in post-New Order Indonesia. Cornell Southeast Asia Program.
- Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. SAGE Publications.
- Mangunjaya, F. M. (2011). Developing environmental awareness and conservation through Islamic teaching. Journal of Islamic Studies, 22(1), 36–49. https://doi.org/10.1093/jis/etq067
- Mangunjaya, F. M., & McKay, J. E. (2012). Reviving an Islamic approach for environmental conservation in Indonesia. Worldviews: Global Religions, Culture, and Ecology, 16(3), 286–305. https://doi.org/10.1163/15685357-01603006
- Niinimäki, K., Peters, G., Dahlbo, H., Perry, P., Rissanen, T., & Gwilt, A. (2020). The environmental price of fast fashion. Nature Reviews Earth & Environment, 1(4), 189–200. https://doi.org/10.1038/s43017-020-0039-9
- Norris, F. H., Stevens, S. P., Pfefferbaum, B., Wyche, K. F., & Pfefferbaum, R. L. (2008). Community resilience as a metaphor, theory, set of capacities, and strategy for disaster readiness. American Journal of Community Psychology, 41(1–2), 127–150. https://doi.org/10.1007/s10464-007-9156-6
- Othman, M. K., Asmak Ab Rahman, & Zulkifli Hasan. (2020). Environmental fiqh and sustainable development: The Islamic jurisprudence perspective. International Journal of Law and Management, 62(4), 381–396. https://doi.org/10.1108/IJLMA-04-2019-0087
- Ozdemir, I., & Woodward, M. (2022). Islam and ecology: A bestowed trust. Harvard University Press.
- Pargament, K. I. (1997). The psychology of religion and coping: Theory, research, practice. Guilford Press.
- Salim, A. (2019). Environmental Islam: Green da'wah and conservation movement in Indonesian pesantren. Studia Islamika, 26(3), 469–506. https://doi.org/10.36712/sdi.v26i3.7778
- Sonn, C. C., & Fisher, A. T. (1998). Sense of community: Community resilient responses to oppression and change. Journal of Community Psychology, 26(5), 457–472.
- Stake, R. E. (1995). The art of case study research. SAGE Publications.
- Timmerman, P., & White, R. (1997). Megahydropolis: Reconsidering the role of cities in flood risk management. Global Environmental Change, 7(1), 3–22.
- Wahid, D. (2014). Nurturing the Salafi manhaj: A study of Salafi pesantrens in contemporary Indonesia [Doctoral dissertation, Utrecht University].
- Wiktorowicz, Q. (2006). Anatomy of the Salafi movement. Studies in Conflict & Terrorism, 29(3), 207–239. https://doi.org/10.1080/10576100500497004
- Yusuf, A. A., Ramdan, A., & Hidayat, R. (2021). Pengelolaan daerah aliran sungai Citarum berbasis komunitas: Tantangan dan peluang. Jurnal Ilmu Lingkungan, 19(2), 310–321. https://doi.org/10.14710/jil.19.2.310-321