Volume II: Law, Policy, and Ecological Justice

Ekoteologi Islam Indonesia Kontemporer: Analisis Komparatif Pemikiran Ekoteologi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah

  • Syahrul Kirom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia

Keywords

Ekoteologi, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Teologi Lingkungan, Islam Indonesia.


Abstract

Krisis ekologis global telah berkembang menjadi persoalan multidimensional yang tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga memengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik, bahkan spiritual masyarakat. Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kerusakan lingkungan yang tinggi menghadapi berbagai persoalan seperti deforestasi, perubahan iklim, pencemaran lingkungan, degradasi sumber daya alam, serta meningkatnya frekuensi bencana ekologis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendekatan teknokratis dan regulatif semata belum cukup mampu mengatasi krisis ekologis secara komprehensif. Dalam konteks masyarakat religius seperti Indonesia, agama memiliki potensi besar sebagai sumber etika lingkungan sekaligus kekuatan transformasi sosial melalui pengembangan paradigma ekoteologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif konstruksi pemikiran dan praksis ekoteologi dalam dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif-kritis melalui metode studi kepustakaan yang diperkaya data lapangan terbatas. Analisis dilakukan terhadap dokumen resmi organisasi, hasil bahtsul masā'il, keputusan muktamar, fatwa Majelis Tarjih, karya tokoh, serta berbagai literatur akademik mengenai ekoteologi Islam kontemporer. Analisis menggunakan pendekatan teologis, filosofis, sosio-historis, serta analisis komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua organisasi sama-sama membangun paradigma ekoteologi berdasarkan prinsip tauhid, khalifah, amanah, mīzān, serta maqāṣid al-syarī'ah. Meskipun demikian, keduanya memperlihatkan karakter epistemologis yang berbeda. Nahdlatul Ulama mengembangkan ekoteologi melalui pendekatan fikih lingkungan, tasawuf, budaya lokal, dan tradisi pesantren sehingga menghasilkan model ekoteologi yang bersifat kultural-partisipatif. Sebaliknya, Muhammadiyah membangun paradigma ekoteologi melalui pendekatan tajdid, rasionalitas keilmuan, pendidikan modern, filantropi, dan tata kelola kelembagaan sehingga melahirkan model ekoteologi institusional-transformatif. Perbedaan epistemologi tersebut justru memperlihatkan komplementaritas dalam membangun gerakan lingkungan Islam di Indonesia. Penelitian ini menawarkan kebaruan berupa Model Ekoteologi Islam Transformatif yang mengintegrasikan dimensi teologis, etis, sosial, kultural, ilmiah, dan kelembagaan sebagai paradigma baru pengembangan gerakan lingkungan berbasis agama. Model tersebut menunjukkan bahwa penguatan ekoteologi tidak cukup berhenti pada tataran normatif, tetapi harus diwujudkan dalam transformasi kebijakan organisasi, pendidikan, gerakan sosial, dan perubahan perilaku ekologis masyarakat.


References

  1. Billahi, S., Wijsen, F., & Bagir, Z. A. (2025). Revisiting religious environmentalism in Indonesia: Navigating ethics, politics, and policy. Studi Islamika, 32(3), 405–419.
  2. Fannani, B. (2025). Aswaja and Al-Ma’un theology in Brantas River preservation: Local Muslim environmental activism and Indonesia’s green constitution. Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, 15(2), 350–377. https://doi.org/10.15642/teosofi.2025.15.2.350-377
  3. Firnando, H. G., & Setiawati, C. (2025). Ekoteologi Aswaja: Integrasi nilai-nilai Nahdlatul Ulama dalam etika lingkungan. Nahnu: Journal of Nahdlatul Ulama and Contemporary Islamic Studies, 3(2), 603–632.
  4. Heriyanti, L., Wijayanti, A., & Pakpahan, F. N. (2024). Climate crisis and social inequality: A bibliometric review of environmental sociology research (2014–2024). Socio-Political Communication and Policy Review, 1(5), 52–76.
  5. Huda, M. K. (2023). Kontribusi komunitas NU dalam isu kelestarian lingkungan hidup di Indonesia. Jurnal Dialektika Politik, 7(2), 170–186.
  6. Ilmia, L., & Salsabila, F. (2025). Peran strategis LPBI NU Jombang: Solusi lokal dalam mitigasi perubahan iklim global. Frequency of International Relations, 7(1), 70–94.
  7. Ikhwan, M., Romdhoni, M. A., & Djazilan, M. S. (2021). Fiqih al-bi’ah: Strategi membangun Islamic environmentalism di pesantren Kota Surabaya. Al-Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan, 5(1), 41–61.
  8. Ismail, A. I., & Uyuni, B. (2019). Ghazali’s Sufism and its influence in Indonesia. DINIKA: Academic Journal of Islamic Studies, 4(1). https://doi.org/10.22515/dinika.v4i1.1712
  9. Jasin, M. R., Alamri, M. S. A., Muslimin, J. M., & Mukti, K. W. (2025). Text, context and natural conservation: An analysis of Muhammadiyah’s and Nahdlatul Ulama’s Islamic legal thought on fiqh of environment. Nurani: Jurnal Kajian Syari’ah dan Masyarakat, 25(2), 690–715.
  10. Jenkins, W. (2009). After Lynn White: Religious ethics and environmental problems. The Journal of Religious Ethics, 37(2), 283–309.
  11. Khuluq, M. K. (2024). Hifz al-bi’ah as part of maqashid al-shari’ah and its relevance in the context of global climate change. Indonesian Journal of Interdisciplinary Islamic Studies (IJIIS), 7(2). https://doi.org/10.20885/ijiis.vol7.iss2.art3
  12. Maghfiroh, M., et al. (2024). Promoting green pesantren: Change, challenge and contribution of Nahdlatul Ulama in Indonesia. Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam, 7(2), 409–435.
  13. Mahfudin, A. (2021). Metodologi istinbath hukum Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama. Jurnal Hukum Keluarga Islam, 6, 1–17.
  14. Mardhiah, I., Aulia, R. N., & Narulita, S. (2014). Konsep gerakan ekoteologi Islam: Studi atas Ormas NU dan Muhammadiyah. Studi Al-Qur’an: Membangun Tradisi Berfikir Qur’ani, 10(1), 1–14.
  15. Mawardi, M. (2007). Teologi lingkungan: Teologi pengelolaan lingkungan dalam perspektif Islam.
  16. Muflih, B. K., & Jamaludin, M. A. (2025). Amorti: Jurnal studi Islam interdisipliner. Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner, 4(1), 1–8.
  17. Nurdin, A. R. (2024). Dakwah lingkungan, kader hijau Muhammadiyah, gerakan lingkungan hidup. JSIM: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan, 4(6), 959–969.
  18. Permadi, I., et al. (2022). Al Maun and climate crisis: Dynamic between Muhammadiyah and indigenous communities in 21th century. Jurnal Ilmu Dakwah, 42(1), 95–110. https://doi.org/10.21580/jid.v42.1.11216
  19. Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (2022). Keputusan tanfidz Muhammadiyah Muktamar ke-48. https://pwmjatim.org/uploads/6_Tanfidz_Muktamar_ke_48_Muhammadiyah_di_Solo.pdf
  20. Putra, D. I. A., Rafii, M., & Ansusa, D. I. (2025). Seizing Ahlussunah wal Jama’ah: The identity contesting in hermeneutic digital platform in Indonesia. Journal of Islamic Thought and Civilization, 15(2), 402–418.
  21. Rahman, A. F. (2024). Teologi sosial Muhammadiyah dan implementasinya dalam gerakan sosial kemanusiaan.
  22. Rakhmat, A. (2022). Islamic ecotheology: Understanding the concept of khalifah and the ethical responsibility of the environment. Academic Journal of Islamic Principles and Philosophy, 3(1), 1–24. https://doi.org/10.22515/ajipp.v3i1.5104
  23. Riyadi, A. K. (2012). Genealogi teologi Nahdlatul Ulama. Islamica, 6(2), 77–78.
  24. Rudwan, A. U. N. K. (2023). Ikhtisar sejarah NU 1344 H/1926 M. LTN NU Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
  25. Setiawan, H., Kurniawan, N. I., & Santoso, P. (2022). The ecotheological movement of the Muhammadiyah Environmental Council in responding to the environmental governance crisis. Millah: Journal of Religious Studies, 21(3), 639–670. https://doi.org/10.20885/millah.vol21.iss3.art2
  26. Suratin, S. I., & Fadlillah, M. R. (2025). Ekoteologi Islam: Menjelajahi hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Tuhan dalam tradisi Islam. Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam, 6(1), 13.
  27. Wasil, W., & Muizudin, M. (2023). Ekoteologi dalam menyikapi krisis ekologi di Indonesia perspektif Seyyed Hossein Nasr. Refleksi, 22(1), 179–202. https://doi.org/10.15408/ref.v22i1.31403
  28. Yulisinta, F., Murniati, J., & Eigenstetter, M. (2024). Spiritual ecology and indigenous wisdom: Cultural foundations for sustainable environmental practices in Indonesia. Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya, 8, 186–202.
  29. Zuhdi, M. H. (2015). Fiqh al-bî’ah: Tawaran hukum Islam dalam mengatasi krisis ekologi. Al-‘Adalah, 12(35), 771–783.
Scroll to Top