Volume II: Law, Policy, and Ecological Justice

Tradisi Islam-Melayu sebagai Solusi atas Tantangan Ekologi dan Budaya Global: Pendekatan Maqāṣid al-Syarī’ah terhadap Kearifan Lokal Berkelanjutan

  • Yeni Aidah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia

Keywords

Tradisi Islam-Melayu; Maqāṣid al-Syarī'ah; kearifan lokal; ketahanan budaya; ekologi; pembangunan berkelanjutam.


Abstract

Krisis ekologi yang ditandai oleh degradasi lingkungan, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya alam, serta melemahnya ketahanan budaya akibat globalisasi, menuntut hadirnya paradigma pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai etika, spiritual, dan kearifan lokal. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana tradisi Islam-Melayu dapat menjadi solusi terhadap tantangan ekologi dan budaya global melalui pendekatan Maqāṣid al-Syarī'ah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual (conceptual approach) dan pendekatan filosofis (philosophical approach), yang didukung oleh studi kepustakaan terhadap literatur klasik dan kontemporer mengenai Islam-Melayu, Maqāṣid al-Syarī'ah, etika lingkungan, serta ketahanan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Islam-Melayu mengandung nilai-nilai pelestarian lingkungan, keseimbangan (mīzān), amanah, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam sebagai bagian dari tanggung jawab kekhalifahan manusia. Nilai-nilai tersebut selaras dengan tujuan Maqāṣid al Syarī'ah, khususnya perlindungan agama (hifz al-dīn), jiwa (hifz al-nafs), akal (hifz al-'aql), keturunan (hifz al-nasl), harta (hifz al-māl), serta pengembangan maqāṣid kontemporer berupa perlindungan lingkungan (hifz al-bī'ah). Integrasi antara prinsip-prinsip syariah dan kearifan lokal Islam-Melayu menghasilkan model pembangunan berkelanjutan yang mampu memperkuat ketahanan ekologi sekaligus menjaga identitas budaya masyarakat di tengah arus globalisasi. Dengan demikian, tradisi Islam-Melayu tidak hanya memiliki nilai historis dan kultural, tetapi juga menawarkan kerangka normatif yang relevan bagi penyelesaian persoalan lingkungan dan pelestarian budaya pada tingkat lokal maupun global.


References

  1. Abdullah, M. Amin. 2017. Islam dan Pembangunan Berkelanjutan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  2. Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 1995. Prolegomena to the Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
  3. Al-Qaradawi, Yusuf. 2001. Ri'ayat al-Bi'ah fi al-Shari'ah al-Islamiyyah. Kairo: Dar al-Shuruq.
  4. Auda, Jasser. 2008. Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach. London: International Institute of Islamic Thought.
  5. Azra, Azyumardi. 2004. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana.
  6. Beck, Ulrich. 1992. Risk Society: Towards a New Modernity. London: Sage Publications.
  7. Capra, Fritjof. 1996. The Web of Life: A New Scientific Understanding of Living Systems. New York: Anchor Books.
  8. Foltz, Richard C., Denny, Frederick M., & Baharuddin, Azizan (Eds.). 2003. Islam and Ecology: A Bestowed Trust. Cambridge, MA: Harvard University Press.
  9. Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
  10. Giddens, Anthony. 1990. The Consequences of Modernity. Stanford: Stanford University Press.
  11. Haryati, Sri. 2018. Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan Berbasis Masyarakat Melayu. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 20(2), 145–160.
  12. Hefner, Robert W. 2000. Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton: Princeton University Press.
  13. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). 2023. Climate Change 2023: Synthesis Report. Geneva: IPCC.
  14. Izzi Dien, Mawil Y. 2000. The Environmental Dimensions of Islam. Cambridge: The Lutterworth Press.
  15. Kamali, Mohammad Hashim. 2010. The Objectives of Islamic Law (Maqasid al-Shariah). London: Islamic Texts Society.
  16. Keraf, A. Sonny. 2010. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Kompas.
  17. Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
  18. Naess, Arne. 1973. The Shallow and the Deep, Long-Range Ecology Movement. Inquiry, 16(1–4), 95–100.
  19. Nasr, Seyyed Hossein. 1996. Religion and the Order of Nature. New York: Oxford University Press.
  20. Ostrom, Elinor. 1990. Governing the Commons: The Evolution of Institutions for Collective Action. Cambridge: Cambridge University Press.
  21. Putnam, Robert D. 1993. Making Democracy Work: Civic Traditions in Modern Italy. Princeton: Princeton University Press.
  22. Quraish Shihab, M. 2002. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur'an. Jakarta: Lentera Hati.
  23. Rahardjo, Dawam. 2010. Ensiklopedi Al-Qur'an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci. Jakarta: Paramadina.
  24. Sachs, Jeffrey D. 2015. The Age of Sustainable Development. New York: Columbia University Press.
  25. Sen, Amartya. 1999. Development as Freedom. New York: Alfred A. Knopf.
  26. Suharko. 2016. Kearifan Lokal dan Pelestarian Lingkungan. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 19(3), 215–228.
  27. United Nations. 2015. Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: United Nations.
  28. United Nations Environment Programme (UNEP). 2024. Global Environment Outlook. Nairobi: UNEP.
  29. UNESCO. 2013. Culture: Key to Sustainable Development. Paris: UNESCO.
  30. World Commission on Environment and Development. 1987. Our Common Future. Oxford: Oxford University Press.
Scroll to Top