Volume I: Eco-Theology, Spirituality, and Environmental Ethics

Pupuh Sunda Sebagai Terjemah Kultural Hadis Nabi: Analisis Kebahasaan dalam Pembentukan Sistem Ekoteologi Islam

  • Arif Nursihah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia

Keywords

pupuh Sunda, terjemah kultural, hadis Nabi, ekoteologi Islam, analisis kebahasaan, guru wilangan, guru lagu, metafor ekologis, resiliensi kultural, Asmarandana, Kinanti, Sinom, Maskumambang, Mijil.


Abstract

Pupuh Sunda—sistem puisi tembang tradisional Sunda yang terdiri dari 17 jenis metrum dengan aturan guru wilangan (jumlah suku kata per larik) dan guru lagu (vokal akhir tiap larik)—adalah medium transmisi nilai paling berpengaruh dalam peradaban Sunda. Paper ini mengajukan tesis bahwa sejumlah pupuh bertema ekologis merupakan terjemah kultural hadis Nabi Muhammad SAW: bukan terjemahan literal, melainkan penerjemahan substantif di mana makna profetik diartikulasikan ulang melalui estetika, metafor, dan sistem nilai Sunda. Dengan menggunakan kerangka analisis kebahasaan empat tingkat—leksikal, semantik, metaforik, dan pragmatik—kajian ini menganalisis lima pupuh utama: Asmarandana, Kinanti, Sinom, Maskumambang, dan Mijil. Temuan menunjukkan jaringan interteks yang terstruktur antara kosakata Sunda ekologis dengan konsep-konsep Arab-Islami dalam hadis, membentuk sistem ekoteologi fungsional berbasis bahasa dan estetika. Kajian ini berimplikasi pada pentingnya revitalisasi pupuh sebagai strategi resiliensi kultural komunitas Muslim Sunda dalam era multipolar.


References

  1. Al-Bukhari, M.I. (1997). Sahih al-Bukhari, Terj. M. Muhsin Khan. Riyadh: Darussalam.
  2. Muslim ibn al-Hajjaj. (2007). Sahih Muslim. Riyadh: Darussalam.
  3. Abu Dawud, S. (2008). Sunan Abi Dawud. Riyadh: Maktabah al-Ma'arif.
  4. Al-Baihaqi, A. (2003). Shu'ab al-Iman. Riyadh: Maktabah al-Rushd.
  5. Ibn Majah, M. (2009). Sunan Ibn Majah. Riyadh: Darussalam.
  6. Atja & Danasasmita, S. (1981). Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian. Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.
  7. Haerudin, D. (2005). Tembang dalam Tradisi Sunda. Bandung: Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah UPI.
  8. Iskandarwassid. (1992). Kamus Istilah Sastra Sunda. Bandung: Geger Sunten.
  9. Koswara, D. (2013). Racikan Sastra: Pengkajian dan Pengajaran Sastra Sunda. Bandung: JPBD FPBS UPI.
  10. Rosidi, A. (2011). Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya. Jakarta: Pustaka Jaya.
  11. Warnaen, S. et al. (1987). Pandangan Hidup Orang Sunda. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda.
  12. Austin, J.L. (1962). How to Do Things with Words. Oxford: Oxford University Press.
  13. Bhabha, H. (1994). The Location of Culture. London: Routledge.
  14. Dien, M.I. (2000). The Environmental Dimensions of Islam. Cambridge: Lutterworth Press.
  15. Lakoff, G. & Johnson, M. (1980). Metaphors We Live By. Chicago: University of Chicago Press.
  16. Llewellyn, O.A. (2003). The basis for a discipline of Islamic environmental law. Dalam R.C. Foltz et al. (Eds.), Islam and Ecology (pp.185-247). Cambridge: Harvard University Press.
  17. Nasr, S.H. (1996). Religion and the Order of Nature. Oxford: Oxford University Press.
  18. Searle, J.R. (1969). Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language. Cambridge: Cambridge University Press.
  19. Tayob, A. (2009). Religion in Modern Islamic Discourse. London: Hurst & Company.
Scroll to Top