Volume III: Education and Ecological Literacy

Kitāb al-ʿIlm dalam Kutub Al-Sittah sebagai Landasan Hadis untuk Integrasi Pengetahuan dalam Pendidikan Tinggi Islam

  • R. Marpu Muhidin Ilyas UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia

Keywords

integrasi ilmu; ketahanan kurikulum; sumber primer Islam; metode kritis-analitis; pendidikan tinggi Islam; ADDIE-Tarbawi Kitāb al-ʿIlm.


Abstract

Selama ini pendidikan tinggi Islam cenderung memilih salah satu dari dua sikap terhadap sumbernya sendiri: menjadikan sumber primer sekadar warisan yang layak dikutip, atau mencurigai metode akademik modern sebagai sesuatu yang datang dari luar tradisi. Kedua sikap ini melemahkan kurikulum yang dihasilkannya, dan tulisan ini menawarkan jalan ketiga. Kurikulum pendidikan Islam menjadi berketahanan bukan karena kaya akan sumber primer, dan bukan pula karena canggih secara metodologis, tetapi karena keduanya sengaja dipertemukan: kekayaan Al-Qur'an dan hadis dibaca dengan telaah kritis-analitis sehingga mampu menjawab kebutuhan capaian pembelajaran, desain instruksional, dan persoalan pendidikan hari ini. Tesis ini dibangun secara konseptual. Dua kecenderungan selama ini lazim dipraktikkan: menaruh sumber di samping kerangka modern tanpa argumen yang menghubungkan keduanya, dan mengutip sumber sekadar sebagai pemanis retoris atas kerangka yang sudah jadi. Kedua kecenderungan ini ditelaah untuk menunjukkan mengapa keduanya tidak pernah menghasilkan pertemuan yang sesungguhnya. Dari telaah itu dirumuskan tiga syarat agar pertemuan itu terjadi, dan ketiganya diuji lewat satu kasus, yaitu pembacaan struktural atas susunan bab Kitāb al-ʿIlm di enam kitab hadis pokok, yang pada mulanya menjadi bagian dari sebuah proyek pengembangan bahan ajar dan melahirkan instrumen kurikuler bernama Model ADDIE-Tarbawi Kitāb al-ʿIlm (ATKI). Sumber primer dan metode modern bertemu ketika tiga hal berjalan sekaligus. Sumber dibaca lebih dulu untuk logika susunannya, bukan langsung ditambang isinya. Logika itu kemudian diterjemahkan ke struktur kurikulum lewat metode yang disebut namanya secara terbuka, misalnya desain berbasis capaian, pembacaan kritis-analitis, dan kepekaan terhadap persoalan zaman seperti kecerdasan buatan generatif. Kurikulum yang dihasilkan pun tetap bisa ditelusuri kembali ke urutan sumbernya, bukan hanya mengikuti kepraktisan metode yang dipakai. Ketiadaan salah satu dari tiga hal ini membuat integrasi kembali jatuh menjadi sekadar berdampingan atau berhias. Model ATKI dan modul ajarnya menerjemahkan susunan bab Kitāb al-ʿIlm menjadi capaian, aktivitas, dan penilaian untuk mata kuliah Hadis Tarbawi, dan menjadi bukti bahwa ketiga syarat itu bisa berjalan bersama dalam satu kurikulum yang benar-benar dipakai mengajar. Yang ditawarkan tulisan ini bukan sekadar hasil satu proyek, melainkan model pertemuan itu sendiri, yaitu sesuatu yang bisa dipakai siapa pun yang hendak membangun kurikulum dari sumber primer Islam yang lain. Dengan begitu, ketahanan kurikulum bukan lagi cita-cita yang menunggu pembuktian, melainkan capaian yang bisa dirancang mulai sekarang.


References

  1. Abdalla, M. (2025). Exploring Tarbiyah in Islamic education: A critical review of the English- and Arabic-language literature. Education Sciences, 15(5), 559. https://doi.org/10.3390/educsci15050559
  2. Abū Dāwūd, S. ibn al-A. al-S. (n.d.). Sunan Abī Dāwūd (4 vols.). Dār Iḥyāʾ al-Turāth al-ʿArabī.
  3. Al-Bukhārī, M. ibn I. (1993). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (6 vols.). Dār Ibn Kathīr.
  4. Al-Nasāʾī, A. ibn S. (1991). Al-Sunan al-Kubrā (6 vols.). Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah.
  5. Al-Tirmiżī, M. ibn ʿĪsā. (1994). Sunan al-Tirmiżī (10 vols.). Dār al-Fikr.
  6. Bagir, Z. A. (2012). Practice and the agenda of 'Islam and science.' Zygon, 47(2), 354–366. https://doi.org/10.1111/j.1467-9744.2012.01260.x
  7. Campos, E. S. (2021). The Kitāb al-ʿIlm of al-Bukhārī: A handbook on knowledge. Journal of Abbasid Studies, 8(2), 209–234. https://doi.org/10.1163/22142371-12340071
  8. Guessoum, N. (2015). Islam and science: The next phase of debates. Zygon, 50(4), 854–876. https://doi.org/10.1111/zygo.12213
  9. Ibn Mājah, M. ibn Y. al-Q. (n.d.). Sunan Ibn Mājah (2 vols.). Dār Iḥyāʾ al-Turāth al-ʿArabī.
  10. Miao, F., & Holmes, W. (2023). Guidance for generative AI in education and research. UNESCO.
  11. Muslim ibn al-Ḥajjāj. (1992). Ṣaḥīḥ Muslim (2 vols.). Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah.
  12. Nasir, M., Kawai, N., Rijal, M. K., & Paramma, M. A. (2026). Negotiating outcome-based education in Indonesian Islamic higher education: Aligning competency and faith. Jurnal Pendidikan Islam, 12(2), 287–301. https://doi.org/10.15575/jpi.v12i2.48950
  13. Nguyen, C. T. (2020). Echo chambers and epistemic bubbles. Episteme, 17(2), 141–161. https://doi.org/10.1017/epi.2018.32
  14. Sahin, A. (2018). Critical issues in Islamic education studies: Rethinking Islamic and Western liberal secular values of education. Religions, 9(11), 335. https://doi.org/10.3390/rel9110335
  15. Suwendi, Mesraini, Azka, F. L., & Gama, C. B. (2024). Implementation of knowledge integration in Islamic higher education. Jurnal Pendidikan Islam, 10(1), 41–52. https://doi.org/10.15575/jpi.v10i1.35385
Scroll to Top