Konsep Hifzhul Jawarih Dalam Pendidikan Akhlak: Strategi Memperkuat Kerentanan Moral Anak Terhadap Manipulasi Psikologis Siber (Studi Kasus Fenomenologi Siber)
Keywords
Pendidikan Akhlak, Hifzhul Jawarih, Manipulasi Siber, Fenomenologi, Studi Kasus
Abstract
Era digital memunculkan ancaman kejahatan siber berbasis manipulasi psikologis (social engineering) yang tidak hanya mengeksploitasi sistem teknologi, melainkan melumpuhkan logika dan kontrol diri korban. Selama ini, kajian mengenai fenomena ini sering kali hanya bersifat teoretis-literer tanpa berpijak pada realitas empiris di akar rumput.Penelitian ini bertujuan untuk membedah mekanisme manipulasi psikologis siber berdasarkan lima kluster kasus riil di masyarakat dan merekonstruksi konsep Hifzhul Jawarih (menjaga anggota badan) sebagai model pertahanan psikologis-spiritual dalam pendidikan akhlak.. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus fenomenologis siber (cyber-phenomenology). Data primer bersumber dari teknik wawancara mendalam dan dokumentasi lima testimoni kasus nyata di lapangan, meliputi: penipuan berbasis relasi emosional (romance scam), intimidasi hukum fiktif transaksi digital, pemerasan bermodus pornografi visual (cyber-sextortion), peretasan akun via rekayasa aplikasi (phishing), dan penipuan berbasis ancaman otoritas hukum fiktif. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi celah kelengahan (ghaflah).Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, lima kluster kasus riil mengonfirmasi adanya pola eksploitasi psikologis sistematis yang memanfaatkan kepanikan, empati, dan kelengahan sesaat (ghaflah), yang mampu meruntuhkan regulasi emosi korban terlepas dari latar belakang sosial atau pendidikannya. Kedua, konsep Hifzhul Jawarih terbukti sangat relevan jika direkonstruksi dari doktrin fikih normatif menjadi sistem imun berlapis, yang melatih kesadaran penuh (self-awareness) dalam mengendalikan pandangan (ghaddul bashar), pendengaran, dan refleks motorik digital (lisan/jari tangan) dari stimulasi destruktif. Ketiga, imunitas digital ini diwujudkan melalui pembentukan keterampilan asertif spiritual (assertive skill) dan verifikasi kritis (tabayyun) saat menghadapi tekanan siber.Penelitian ini menegaskan pentingnya mengubah paradigma pendidikan akhlak dari sekadar doktrinal menjadi aplikatif-protektif, dengan mengintegrasikan kesehatan mental, kesadaran siber, dan ketahanan spiritual sebagai fondasi keamanan digital umat.
References
- Al-Ghazali, I. (2018). Ihya ’Ulum al-Din [The Revival of the Religious Sciences]. Cairo: Dar al-Hadith.
- Al-Nawawi, I. (2014). Al-Arba’in al-Nawawiyyah [Nawawi's Forty Hadiths]. Beirut: Dar Ibn Hazm.
- Anderson, C. L., & Jakobsson, M. (2010). Social Engineering: The Art of Human Hacking. New York: Wiley.
- Bulgurcu, B., Cavusoglu, H., & Benbasat, I. (2010). Information security policy compliance: An empirical study of rationality and virtue. MIS Quarterly, 34(3), 523-548.
- Hadisi, M. A. (2023). Islamic moral education in the digital age: Re-evaluating Al-Ghazali's ethical framework for internet users. Journal of Islamic Studies and Practices, 12(2), 145-162.
- Ibn al-Qayyim, A. (2021). Madarij al-Salikin [Stations of the Seekers]. Riyadh: Dar `Alem al-Fawa'id.
- Mitnick, K. D., & Simon, W. L. (2002). The Art of Deception: Controlling the Human Element of Security. Indianapolis: Wiley Publishing.
- Nurhayati, N., Rahman, A., & Saputra, M. (2019). Localizing Islamic values in contemporary society: Cultural accommodation and ethical challenges. Journal of Islamic Educational Review, 7(2), 112-128.
- Samsul Arifin, B. (2022). Psychology of Islamic Education: Theoretical and Practical Foundations. Bandung: Pustaka Setia.
- UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (2026). Guidelines and Proceedings Format for the 15th International Conference on Islam and Medicine, Advanced Technologies, and Development (ICON-IMAD XV). Bandung: Postgraduate Program Press.