Volume I: Eco-Theology, Spirituality, and Environmental Ethics

Justifikasi Fenomenologis Spiritualitas Tanpa Bukti: Sintesis Eksistensialisme, Hermeneutika, dan Epistemologi Reformed di Era Post-Truth

  • Nana Supiana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia

Keywords

Justifikasi Fenomenologis, Pengalaman Mistis, Post-Truth, Eksistensialisme Religius, Hermeneutika, Epistemologi Reformed, Tasawuf.


Abstract

Era post-truth telah mengubah secara mendasar lanskap epistemologis kehidupan beragama. Dominasi fakta objektif tergusur oleh kekuatan emosi personal dan keyakinan subjektif dalam membentuk klaim kebenaran. Dalam situasi ini, pengalaman mistis sebagai wujud spiritualitas yang tidak memerlukan pembuktian empiris kerap diposisikan secara ambigu: dihormati dalam tradisi religius namun dicurigai dalam kerangka epistemologi modern. Artikel ini bertujuan membangun justifikasi fenomenologis bagi pengalaman mistis melalui sintesis tiga arus utama filsafat agama kontemporer, yakni eksistensialisme religius Søren Kierkegaard, hermeneutika fenomenologis Paul Ricoeur, dan epistemologi reformed Alvin Plantinga, serta memperkaya diskursus tersebut dengan dialog kritis dari tradisi tasawuf Islam. Menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan pendekatan fenomenologi-hermeneutik, analisis dilakukan melalui tiga tahapan: reduksi fenomenologis untuk menangkap pengalaman mistis sebagaimana dihayati subjek, interpretasi hermeneutik untuk menggali lapisan makna di balik simbol-simbol keagamaan, dan analisis komparatif untuk mensintesiskan kerangka justifikasi epistemik. Temuan menunjukkan bahwa pengalaman mistis memiliki justifikasinya sendiri yang tidak tunduk pada tuntutan pembuktian objektif ala Cartesian. Kierkegaard menawarkan kebenaran subjektif di mana hasrat tak terbatas justru tumbuh subur dalam ketidakpastian objektif. Ricoeur melengkapi dengan hermeneutika simbol dan kesaksian, di mana pengalaman mistis diinterpretasikan secara berkelanjutan dalam komunitas tradisi. Plantinga memberikan landasan epistemik melalui konsep kepercayaan dasar yang tepat dan sensus divinitatis. Tradisi tasawuf Islam, dengan konsep kashf, fana, dan ḥayra, memperkaya kerangka tersebut dengan contoh konkret tentang bagaimana pengalaman mistis dipahami dan dijustifikasi dalam komunitas spiritual yang hidup. Artikel ini menyimpulkan bahwa spiritualitas tanpa bukti bukanlah kelemahan kognitif melainkan modus pengetahuan yang legitim dengan logika internalnya sendiri, sebuah kesimpulan yang menawarkan jalan keluar dari relativisme epistemik di era post-truth sekaligus memperluas pengertian rasionalitas itu sendiri.


References

  1. Adnan, Gunawan. 2021. Filsafat Kontemporer: Diskursus Filsafat Barat dan Islam. Banda Aceh: Ar-Raniry Press.
  2. Al-Ghazali, Abu Hamid. 1997. The Incoherence of the Philosophers. Diterjemahkan oleh Michael E. Marmura. Provo: Brigham Young University Press.
  3. Al-Ghazali, Abu Hamid. 2004. Deliverance from Error and The Beginning of Guidance. Diterjemahkan oleh Richard J. McCarthy. Louisville: Fons Vitae.
  4. Amra, Yoan Sabili. 2024. "Rekonstruksi Epistemologi Agama dalam Pemikiran Alvin Plantinga." Skripsi. UIN Raden Intan Lampung.
  5. Anshori, Isa. 2015. "Kritik Epistemologi Islam dalam Islamologi Terapan." Jurnal Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam 5(1).
  6. Arifka, A. 2025. "Mystical Experience in Sufism: The Study of Uniqueness of Sufism in Relation to Mysticism." At-Thullab: Jurnal Mahasiswa Studi Islam 7(1): 52-69.
  7. Bagir, Haidar. 2017. Islam Tuhan Islam Manusia. Bandung: Mizan.
  8. Chittick, William C. 1989. The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-Arabi's Metaphysics of Imagination. Albany: State University of New York Press.
  9. Digitization of Religious Tafsir: The Fading of Indonesian Ulama Authority in Post Truth Era. 2024. Jurnal UIN Sunan Kalijaga.
  10. Frimayanti, Ade Imelda, Atik Rusdiani, dan Rima Yuni Saputri. 2025. "Pembinaan Mental Rohani Islam: Studi Fenomenologis pada Prajurit Tentara Nasional Indonesia di Provinsi Lampung." Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah 10.
  11. Hidayatulloh, T., Saumantri, T., Hajam, H., & Akmaliah, W. 2025. "Ibn Arabi's Hermeneutics as an Alternative Religious Exegesis for Contemporary Urban Muslim Communities." Akademika: Jurnal Pemikiran Islam 30(1): 61-76.
  12. Ibn Arabi, Muhyiddin. 1980. The Bezels of Wisdom. Diterjemahkan oleh R.W.J. Austin. New York: Paulist Press.
  13. Jalil, Mat. 2020. "Sinergitas Filsafat dan Agama bagi Masyarakat di Era Kontemporer." Ath Thariq: Jurnal Dakwah dan Komunikasi 3(2).
  14. James, William. 1902. The Varieties of Religious Experience. New York: Longmans, Green, and Co.
  15. Karlina, Intan dan Gazali Gazali. 2025. "Transformasi Konsep Wahdat al-Wujud Ibn Arabi dalam Tasawuf Kontemporer Indonesia." Jurnal Studi Sosial dan Religi 8(2).
  16. Kierkegaard, Søren. 1843. Fear and Trembling. Diterjemahkan oleh Alastair Hannay. London: Penguin Books, 1985.
  17. Kierkegaard, Søren. 1846. Concluding Unscientific Postscript to Philosophical Fragments. Diterjemahkan oleh Howard V. Hong dan Edna H. Hong. Princeton: Princeton University Press, 1992.
  18. Knysh, Alexander. 2000. Islamic Mysticism: A Short History. Leiden: Brill.
  19. Munawar, Ahmad. 2018. "Konsep Agama Positif dan Agama Negatif: Tantangan dalam Filsafat dan Politik di Era Kontemporer." Dalam Kontribusi Aqidah dan Filsafat Islam bagi Kemanusiaan di Era Milenial. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Press.
  20. Nasr, Seyyed Hossein. 2007. The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam's Mystical Tradition. New York: HarperOne.
  21. Naupal. 2014. "The Reconstruction of The Role of Islam in Indonesia as A Prophetic Religion." Al Ulum: Jurnal Studi Islam 14(2).
  22. Noordzeha, Fuad. 2023. Filsafat Agama: Kajian Filosofis Keagamaan. Yogyakarta: Deepublish.
  23. Peterson, Michael L. 2022. Monotheism, Suffering, and Evil. Cambridge: Cambridge University Press.
  24. Peterson, Michael L., William Hasker, Bruce Reichenbach, dan David Basinger. 2021. Reason and Religious Belief: An Introduction to the Philosophy of Religion. Edisi ke-5. New York: Oxford University Press.
  25. Plantinga, Alvin. 2000. Warranted Christian Belief. New York: Oxford University Press.
  26. Post-Truth dan Tantangannya dalam Dunia Pendidikan. 2025. Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat 1: 33-55.
  27. Relevansi Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Era Teknologi dan Post-Truth. 2025. Lampung: MUI.
  28. Ricoeur, Paul. 1967. The Symbolism of Evil. Diterjemahkan oleh Emerson Buchanan. Boston: Beacon Press.
  29. Ricoeur, Paul. 1992. Oneself as Another. Diterjemahkan oleh Kathleen Blamey. Chicago: University of Chicago Press.
  30. Sufiani. 2025. "Kebenaran Pandangan Filsafat: Kajian Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Pendidikan Islam." Jurnal Ilmiah IAIN Kendari.
  31. Transformasi dan Kontestasi Otoritas Keagamaan di Era Post-Truth Indonesia. 2025. Garuda: Garba Rujukan Digital.
  32. Walsh, Sylvia. 2018. Kierkegaard and Religion: Personality, Character, and Virtue. Cambridge: Cambridge University Press.
  33. Zaki, M., M. Mustafa, dan Z. Ahmad. 2026. Agama, Filsafat, dan Teori-Teori Sosial Kontemporer. Yayasan Darul Ittihadul Munawarah.
Scroll to Top