Nilai-Nilai Eskatologis dalam Tafsir Sufi dan Falsafi sebagai Basis Ekoteologi Melayu-Islam di Era Digital
Keywords
Qur’anic Eschatology; Ecotheology; Generation Z; Malay-Islamic Culture; Digital Spirituality. Pendahuluan Krisis ekologis global pada era digital telah menjadi salah satu tantangan terbesar masyarakat kontemporer. Laporan United Nations Environment Programme menunjukkan bahwa perubahan iklim, kerusakan lingkungan, pencemaran, dan eksploitasi sumber daya alam terus mengalami peningkatan dalam dua dekade terakhir akibat pola konsumsi modern dan perkembangan teknologi industri (UNEP, 2023). Dalam konteks masyarakat Muslim, krisis ekologis tidak hanya dipahami sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan krisis spiritual dan moral manusia dalam memperlakukan alam sebagai bagian dari tanda-tanda ketuhanan (āyāt kauniyyah). Fenomena ini semakin kompleks pada era digital ketika Generasi Z tumbuh dalam budaya hiper-konektivitas yang cenderung membentuk pola hidup konsumtif, individualistik, dan berjarak dari nilai-nilai spiritual tradisional (Campbell, 2020). Di Indonesia dan kawasan Melayu-Islam, modernisasi digital juga berimplikasi pada memudarnya kesadaran budaya religius yang selama ini menempatkan harmoni manusia, alam, dan Tuhan sebagai fondasi kehidupan sosial (Azra, 2019). Pada saat yang sama, meningkatnya fenomena eco-anxiety, kecemasan eksistensial, dan pencarian spiritual di kalangan generasi muda menunjukkan bahwa masyarakat digital 24 | ICON-IMAD XV Proceedings · Volume I · 2026 International Conference on Islam in the Malay World (ICON-IMAD XV), 2026 membutuhkan paradigma religius baru yang mampu menghubungkan kesadaran spiritual dengan tanggung jawab ekologis (Taylor, 2020). Dalam konteks tersebut, eskatologi Qur’ani menjadi relevan karena ayat-ayat tentang akhir zaman tidak hanya berbicara mengenai kehancuran kosmos, tetapi juga mengandung nilai moral, spiritual, dan ekologis bagi kehidupan manusia. Kajian tentang eskatologi Qur’ani dan ekoteologi Islam telah berkembang cukup signifikan dalam studi Islam kontemporer. Penelitian pertama umumnya memfokuskan diri pada dimensi teologis dan kosmologis ayat- ayat asyrāṭ al-sā‘ah sebagai tanda-tanda literal datangnya hari kiamat (Lange, 2016; Smith & Haddad, 2017). Kelompok kedua mengembangkan pendekatan sufistik yang memahami eskatologi sebagai simbol transformasi spiritual dan penyucian jiwa manusia, sebagaimana tampak dalam tafsir Abd al-Razzaq al-Kashani (Keeler, 2020). Kelompok ketiga mengaitkan eskatologi dengan dimensi ontologis dan filsafat eksistensi melalui pemikiran Mulla Sadra tentang al-ḥarakah al-jawhariyyah dan hubungan manusia dengan kosmos (Rizvi, 2017). Sementara itu, studi ekoteologi Islam modern lebih banyak menyoroti konsep khalifah, amanah ekologis, dan etika lingkungan dalam perspektif Islam (Nasr, 1996; Foltz, 2003). Meskipun demikian, sebagian besar penelitian tersebut masih bersifat tekstual dan belum banyak menghubungkan nilai-nilai eskatologis Qur’ani dengan ketahanan budaya Melayu-Islam dan religiositas Generasi Z pada era digital. Selain itu, integrasi antara tafsir sufi dan falsafi sebagai basis ekoteologi Islam kontemporer juga masih relatif jarang dibahas secara komprehensif. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai eskatologis dalam tafsir sufi dan falsafi sebagai basis ekoteologi Melayu-Islam di era digital. Penelitian difokuskan pada penafsiran QS. Muḥammad [47]:18, QS. al-An‘ām [6]:158, dan QS. al-Zukhruf [43]:61 dalam Ta’wīlāt al-Qur’ān karya al- Kāshānī dan Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm karya Mullā Ṣadrā. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan menjelaskan bagaimana nilai-nilai spiritual, moral, dan ekologis dalam ayat-ayat tersebut diresepsi oleh Generasi Z sebagai bentuk ketahanan budaya Melayu-Islam di tengah disrupsi digital kontemporer. Dengan mengombinasikan studi tafsir, filsafat Islam, teori resepsi, dan ekoteologi, penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengembangan studi eskatologi Qur’ani dalam konteks sosial modern. Penelitian ini berangkat dari argumen bahwa ayat-ayat asyrāṭ al-sā‘ah tidak hanya mengandung makna teologis tentang akhir zaman, tetapi juga memuat paradigma spiritual-ekologis yang relevan bagi masyarakat Muslim modern. Penafsiran al-Kāshānī yang menekankan penyucian jiwa dan kesadaran batin menunjukkan bahwa kerusakan alam berakar pada krisis spiritual manusia. Sementara itu, perspektif Mullā Ṣadrā mengenai gerak substansial memperlihatkan bahwa manusia dan alam berada dalam satu kesatuan ontologis yang bergerak menuju kesempurnaan eksistensial (Kamal, 2016). Berdasarkan asumsi tersebut, penelitian ini berhipotesis bahwa integrasi tafsir sufi dan falsafi dapat membentuk paradigma ekoteologi Melayu-Islam yang lebih reflektif, humanistik, dan kontekstual dalam memperkuat spiritualitas digital, kesadaran ekologis, dan ketahanan budaya Generasi Z pada era kontemporer. Tinjauan Pustaka Eskatologi Qur’ani merupakan ajaran tentang akhir kehidupan manusia, hari kebangkitan, dan tanda-tanda kiamat (asyrāṭ al-sā‘ah) yang tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga mengandung dimensi moral dan kosmologis (Lange, 2016). Dalam studi Islam kontemporer, eskatologi dipahami sebagai sistem nilai yang membangun kesadaran manusia terhadap tanggung jawab spiritual dan ekologis. Seyyed Hossein Nasr menegaskan bahwa krisis lingkungan modern berakar pada krisis spiritual manusia yang memisahkan agama dari alam semesta (Nasr, 1996). Dengan demikian, ayat-ayat eskatologis dapat dipahami sebagai peringatan etis mengenai pentingnya menjaga harmoni manusia, alam, dan Tuhan. Dalam konteks ini, ekoteologi Islam berkembang sebagai paradigma yang menghubungkan spiritualitas Qur’ani dengan kesadaran ekologis dan tanggung jawab kosmik manusia (Foltz, 2003). Dalam tradisi tafsir Islam, pendekatan sufistik dan falsafi memberikan pembacaan yang lebih reflektif terhadap ayat-ayat eskatologis. Abd al-Razzaq al-Kashani melalui Ta’wīlāt al-Qur’ān memahami asyrāṭ al-sā‘ah sebagai simbol transformasi spiritual manusia melalui penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs) dan kesadaran batin (Keeler, 2020). Sementara itu, Mulla Sadra menafsirkan eskatologi dalam kerangka ontologis melalui konsep al- ḥarakah al-jawhariyyah, yaitu gerak substansial seluruh eksistensi menuju kesempurnaan (Rizvi, 2017). Kedua pendekatan ini menunjukkan bahwa kerusakan moral manusia berkaitan erat dengan disharmoni spiritual dan kosmologis. Oleh karena itu, tafsir sufi dan falsafi memiliki relevansi dalam membangun paradigma ekoteologi Islam yang menempatkan manusia sebagai bagian integral dari tatanan kosmos. Generasi Z merupakan kelompok sosial yang tumbuh dalam budaya digital dengan karakteristik hiper- konektivitas, akses informasi cepat, dan pola religiositas yang lebih fleksibel (Twenge, 2017). Perkembangan media sosial telah mengubah cara generasi muda memahami otoritas agama dan praktik spiritual (Campbell, 2020). Dalam masyarakat Melayu-Islam, transformasi digital juga memengaruhi ketahanan budaya religius yang selama ini dibangun melalui nilai harmoni, spiritualitas, dan relasi sosial-komunal. Gary R. Bunt menjelaskan bahwa ruang digital kini menjadi arena utama produksi dan distribusi wacana Islam kontemporer (Bunt, 2018). Dalam konteks tersebut, nilai-nilai eskatologis Qur’ani dapat direkonstruksi sebagai basis spiritualitas digital dan ICON-IMAD XV Proceedings · Volume I · 2026| 25 International Conference on Islam in the Malay World (ICON-IMAD XV), 2026 ketahanan budaya Melayu-Islam, terutama dalam menghadapi krisis ekologis, degradasi moral, dan disorientasi identitas pada era modern. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain interpretatif-komparatif untuk menganalisis nilai-nilai eskatologis dalam tafsir sufi dan falsafi sebagai basis ekoteologi Melayu-Islam di era digital. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada pemahaman makna, konstruksi spiritual, dan relasi manusia dengan alam dalam penafsiran Al-Qur’an, khususnya pada ayat-ayat asyrāṭ al-sā‘ah. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan pendekatan studi resepsi (reception study) dan living Qur’an untuk melihat bagaimana nilai-nilai eskatologis tersebut diresepsi dan dimaknai kembali oleh Generasi Z dalam konteks religiositas digital kontemporer (Jauss, 1982; Ammerman, 2021). Objek utama penelitian ini adalah QS. Muḥammad [47]:18, QS. al-An‘ām [6]:158, dan QS. al-Zukhruf [43]:61 yang dianalisis melalui dua karya tafsir utama, yaitu Ta’wīlāt al-Qur’ān karya Abd al-Razzaq al-Kashani dan Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm karya Mulla Sadra. Ketiga ayat tersebut dipilih karena merepresentasikan dimensi spiritual, moral, dan kosmologis dari konsep asyrāṭ al-sā‘ah. Penelitian ini juga menempatkan budaya Melayu- Islam dan religiositas digital Generasi Z sebagai konteks sosial dalam memahami relevansi nilai-nilai eskatologis terhadap kesadaran ekologis dan ketahanan budaya masyarakat Muslim modern. Sumber data penelitian terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari teks tafsir al- Kāshānī dan Mullā Ṣadrā, khususnya penafsiran terhadap ayat-ayat eskatologis yang menjadi fokus penelitian. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari buku, artikel jurnal bereputasi, laporan penelitian, dan studi kontemporer mengenai eskatologi Islam, ekoteologi, religiositas digital, dan budaya Melayu-Islam. Beberapa referensi utama yang digunakan antara lain karya Seyyed Hossein Nasr tentang krisis spiritual-ekologis, Heidi A. Campbell mengenai religiositas digital, serta Gary R. Bunt tentang transformasi otoritas keagamaan di ruang siber. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, analisis tekstual, dan observasi digital secara terbatas terhadap praktik religius Generasi Z di media sosial. Studi pustaka digunakan untuk mengidentifikasi konstruksi makna eskatologis dalam tafsir sufi dan falsafi, sedangkan observasi digital dilakukan untuk melihat pola resepsi nilai-nilai spiritual dan ekologis dalam ruang digital Islam kontemporer. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik dan hermeneutik-komparatif untuk menemukan pola penafsiran, nilai ekoteologis, serta relevansi sosialnya terhadap budaya Melayu-Islam pada era digital (Palmer, 2019). Tahapan analisis dilakukan melalui reduksi data, kategorisasi tema, interpretasi makna, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menitikberatkan pada interpretasi hubungan antara teks, konteks, dan resepsi sosial dalam membangun paradigma ekoteologi Qur’ani yang lebih reflektif dan kontekstual. Dengan pendekatan tersebut, penelitian ini berupaya menjelaskan bahwa nilai-nilai eskatologis dalam tafsir sufi dan falsafi tidak hanya berfungsi sebagai doktrin akhir zaman, tetapi juga sebagai fondasi spiritual dan etika ekologis bagi ketahanan budaya Melayu-Islam di tengah perkembangan era digital kontemporer. Hasil dan Pembahasan 1. Eskatologi dan Ekoteologi dalam Al-Qur’an Eskatologi dalam Al-Qur’an merupakan salah satu tema sentral yang berkaitan dengan kehidupan akhir manusia, kehancuran kosmos, kebangkitan, dan pertanggungjawaban moral di hadapan Tuhan. Dalam tradisi Islam klasik, konsep asyrāṭ al-sā‘ah dipahami sebagai tanda-tanda datangnya hari kiamat yang menunjukkan berakhirnya tatanan dunia dan dimulainya kehidupan akhirat (Lange, 2016). Namun, dalam perkembangan studi Islam kontemporer, eskatologi tidak lagi dipahami secara sempit sebagai narasi apokaliptik, melainkan sebagai sistem etika dan kesadaran spiritual yang membentuk relasi manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Perspektif ini berkembang terutama dalam kajian ekoteologi Islam yang melihat bahwa ayat-ayat tentang kehancuran kosmos sesungguhnya merupakan kritik Qur’ani terhadap krisis moral dan spiritual manusia modern (Nasr, 1996). Dalam konteks Al-Qur’an, relasi antara manusia dan alam dibangun melalui konsep khalīfah, amānah, dan keseimbangan kosmik (mīzān). Manusia diposisikan sebagai wakil Tuhan di bumi yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga harmoni ciptaan, bukan mengeksploitasi alam secara destruktif. Oleh karena itu, kerusakan lingkungan dipahami sebagai konsekuensi dari penyimpangan spiritual dan etika manusia dari prinsip ketuhanan. Hal tersebut tampak jelas dalam QS. al-Rūm [30]:41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” Ayat ini menjadi salah satu fondasi utama dalam kajian ekoteologi Islam kontemporer karena menegaskan hubungan langsung antara kerusakan ekologis dan perilaku moral manusia. Menurut Seyyed Hossein Nasr, krisis lingkungan modern lahir dari pandangan dunia sekular-materialistik yang memisahkan manusia dari dimensi 26 | ICON-IMAD XV Proceedings · Volume I · 2026 International Conference on Islam in the Malay World (ICON-IMAD XV), 2026 sakral alam semesta. Alam tidak lagi dipahami sebagai manifestasi tanda-tanda Tuhan (āyāt Allāh), melainkan sekadar objek eksploitasi ekonomi dan teknologi (Nasr, 1996). Pandangan serupa dikemukakan oleh Richard Foltz yang menjelaskan bahwa ekologi dalam Islam memiliki basis spiritual yang kuat karena alam diposisikan sebagai bagian integral dari kosmos ilahi (Foltz, 2003). Ayat-ayat eskatologis dalam Al-Qur’an juga menunjukkan bahwa kehancuran kosmos pada hari kiamat memiliki makna simbolik dan etis. Dalam QS. Muḥammad [47]:18, Al-Qur’an mempertanyakan kesiapan spiritual manusia ketika tanda-tanda kiamat telah datang. Ayat ini tidak hanya berbicara mengenai akhir dunia secara literal, tetapi juga mengenai krisis kesadaran manusia yang gagal membaca tanda-tanda moral dan spiritual di sekitarnya. Menurut Abdullah Saeed, ayat-ayat eskatologis Qur’ani harus dibaca secara kontekstual sebagai bentuk kritik terhadap manusia yang kehilangan orientasi etis dalam kehidupan sosial modern (Saeed, 2014). Dengan demikian, konsep kiamat dalam Al-Qur’an dapat dipahami sebagai peringatan terhadap keruntuhan moral, ketidakadilan sosial, dan kerusakan ekologis yang disebabkan oleh manusia sendiri. Dimensi kosmologis eskatologi Qur’ani semakin tampak dalam QS. al-Zukhruf [43]:61 yang menegaskan bahwa pengetahuan tentang akhir kehidupan merupakan bagian dari kesadaran spiritual manusia. Dalam perspektif tafsir filosofis Islam, ayat ini menunjukkan bahwa manusia harus memahami dirinya sebagai bagian dari sistem kosmos yang saling terhubung. Dalam kajian filsafat Islam kontemporer, konsep tersebut berkaitan dengan gagasan kesatuan eksistensi dan keterhubungan ontologis antara manusia dan alam (Rizvi, 2017). Oleh karena itu, kehancuran alam bukan sekadar krisis ekologis, tetapi juga krisis ontologis yang menunjukkan terputusnya relasi harmonis antara manusia dan tatanan kosmik. Kajian ekoteologi Islam modern semakin berkembang seiring meningkatnya perhatian akademik terhadap isu perubahan iklim dan degradasi lingkungan global. Beberapa penelitian dalam jurnal bereputasi menunjukkan bahwa agama memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran ekologis masyarakat. Studi Ibrahim Özdemir dalam Journal of Islamic Studies menjelaskan bahwa konsep tauhid dalam Islam menciptakan paradigma ekologis yang menempatkan seluruh ciptaan dalam kesatuan spiritual yang saling terhubung (Özdemir, 2003). Penelitian lain oleh Anna M. Gade dalam Worldviews: Global Religions, Culture, and Ecology menunjukkan bahwa pembacaan ekologis terhadap Al-Qur’an dapat membangun etika lingkungan yang lebih berkelanjutan di masyarakat Muslim kontemporer (Gade, 2019). Sementara itu, studi Fazlun Khalid menekankan bahwa spiritualitas Islam dapat menjadi basis penting dalam gerakan konservasi lingkungan global karena Islam memandang alam sebagai amanah ilahi yang harus dijaga secara kolektif (Khalid, 2010). Dalam konteks era digital, pembacaan eskatologis-ekologis terhadap Al-Qur’an menjadi semakin relevan. Budaya digital yang mendorong konsumsi berlebihan, percepatan gaya hidup, dan eksploitasi sumber daya alam secara masif telah melahirkan krisis ekologis sekaligus krisis spiritual. Generasi muda Muslim, khususnya Generasi Z, hidup dalam situasi paradoks: mereka memiliki akses luas terhadap informasi keagamaan digital, tetapi sekaligus mengalami kecemasan ekologis (eco-anxiety) dan disorientasi spiritual akibat modernitas teknologi. Oleh karena itu, nilai-nilai eskatologis dalam Al-Qur’an dapat direkonstruksi sebagai basis spiritualitas ekologis yang tidak hanya berbicara tentang akhir zaman, tetapi juga tentang tanggung jawab manusia menjaga keseimbangan kosmos, membangun kesadaran moral, dan memperkuat ketahanan budaya religius di tengah krisis global kontemporer. 2. Tafsir Sufi dan Falsafi tentang Krisis Manusia dan Alam Pembacaan sufistik dan falsafi terhadap ayat-ayat eskatologis dalam Al-Qur’an memperlihatkan bahwa konsep kiamat tidak hanya dipahami sebagai kehancuran fisik alam semesta, tetapi juga sebagai refleksi atas krisis spiritual dan ontologis manusia. Dalam tradisi tafsir Islam, pendekatan sufistik berfokus pada dimensi batin dan transformasi ruhani, sedangkan pendekatan falsafi menekankan struktur ontologis realitas dan relasi eksistensial manusia dengan kosmos. Kedua pendekatan tersebut memiliki titik temu pada gagasan bahwa kerusakan dunia lahir dari disharmoni manusia terhadap tatanan spiritual dan kosmik yang telah ditetapkan Tuhan. Dengan demikian, eskatologi dipahami bukan sekadar doktrin akhir zaman, tetapi juga kritik terhadap krisis moral dan ekologis manusia modern. 3. Tafsir Sufi al-Kāshānī: Kerusakan Batin dan Krisis Sosial Abd al-Razzaq al-Kashani merupakan salah satu mufasir sufi yang menafsirkan Al-Qur’an secara simbolik dan spiritual melalui karya Ta’wīlāt al-Qur’ān. Dalam tradisi tafsir sufistik, teks Al-Qur’an dipahami memiliki dimensi lahiriah (ẓāhir) dan batiniah (bāṭin), sehingga ayat-ayat eskatologis tidak hanya menunjuk pada peristiwa kosmik di masa depan, tetapi juga kondisi spiritual manusia pada saat ini (Keeler, 2020). Al-Kāshānī memahami asyrāṭ al-sā‘ah sebagai simbol dari kematian spiritual manusia akibat dominasi hawa nafsu, materialisme, dan keterputusan dari Tuhan. Dalam penafsirannya terhadap QS. Muḥammad [47]:18, al-Kāshānī menjelaskan bahwa “kedatangan kiamat” merupakan metafora bagi munculnya kesadaran eksistensial manusia terhadap kefanaan dirinya. Kiamat tidak hanya dimaknai sebagai kehancuran dunia, tetapi juga kehancuran ego (fanā’ al-nafs) yang menjadi syarat ICON-IMAD XV Proceedings · Volume I · 2026| 27 International Conference on Islam in the Malay World (ICON-IMAD XV), 2026 bagi perjalanan spiritual menuju Tuhan. Menurut al-Kāshānī, manusia yang tenggelam dalam nafsu duniawi akan kehilangan kemampuan membaca tanda-tanda ketuhanan dalam dirinya maupun alam semesta. Akibatnya, kerusakan spiritual individu akan berkembang menjadi kerusakan sosial yang lebih luas, seperti hilangnya keadilan, keserakahan ekonomi, dan eksploitasi alam. Pandangan tersebut menunjukkan adanya hubungan erat antara kondisi batin manusia dan kondisi sosial- ekologis masyarakat. Dalam perspektif sufistik, alam dipahami sebagai cerminan spiritual manusia; ketika jiwa manusia rusak, maka relasinya terhadap sesama dan lingkungan juga akan rusak. Oleh karena itu, konsep tazkiyat al-nafs menjadi inti penting dalam tafsir al-Kāshānī. Penyucian jiwa dipahami sebagai proses mengembalikan harmoni spiritual manusia agar mampu menjalankan fungsi kekhalifahan secara etis dan seimbang. Studi Annabel Keeler dalam The Oxford Handbook of Qur’anic Studies menjelaskan bahwa tafsir sufistik berupaya menghubungkan transformasi spiritual individu dengan pembentukan tatanan sosial yang harmonis dan religius (Keeler, 2020). Dalam QS. al-An‘ām [6]:158, al-Kāshānī menafsirkan tertutupnya pintu iman setelah datangnya tanda-tanda kiamat sebagai simbol matinya kesadaran spiritual manusia akibat dominasi materialisme dan hawa nafsu. Manusia yang kehilangan dimensi spiritual akan terjebak pada orientasi duniawi yang eksploitatif terhadap alam dan kehidupan sosial. Hal ini relevan dengan kondisi modern ketika krisis lingkungan sering kali berakar pada keserakahan ekonomi dan hilangnya etika spiritual dalam relasi manusia dengan alam. Dalam kajian ekoteologi Islam kontemporer, spiritualitas sufistik dipandang mampu menawarkan paradigma alternatif terhadap modernitas yang antroposentris dan materialistik (Khalid, 2010). Lebih jauh, QS. al-Zukhruf [43]:61 dipahami al-Kāshānī sebagai pengetahuan batin tentang kepastian akhir kehidupan yang hanya dapat dicapai melalui ma‘rifat dan penyucian jiwa. Kesadaran eskatologis ini melahirkan sikap rendah hati, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap alam sebagai manifestasi tanda-tanda Tuhan. Dengan demikian, tafsir sufistik al-Kāshānī menempatkan krisis ekologis sebagai bagian dari krisis spiritual manusia. Kerusakan alam bukan semata persoalan teknis atau ekonomi, tetapi konsekuensi dari keterasingan manusia terhadap Tuhan dan dirinya sendiri. 4. Tafsir Falsafi Mullā Ṣadrā: Disharmoni Ontologis dan Krisis Kosmos Berbeda dengan pendekatan sufistik al-Kāshānī, Mulla Sadra memahami ayat-ayat eskatologis melalui pendekatan filosofis dan ontologis. Dalam kerangka filsafat al-ḥikmah al-muta‘āliyah, Mullā Ṣadrā menekankan konsep al-ḥarakah al-jawhariyyah (gerak substansial), yaitu bahwa seluruh realitas berada dalam proses perubahan eksistensial menuju kesempurnaan wujud (Rizvi, 2017). Alam semesta dipahami sebagai entitas hidup yang bergerak secara dinamis menuju Tuhan sebagai sumber seluruh eksistensi. Dalam penafsirannya terhadap QS. Muḥammad [47]:18, Mullā Ṣadrā memandang kiamat sebagai keniscayaan ontologis dari gerak eksistensial seluruh makhluk. Kiamat bukan sekadar peristiwa temporal, melainkan transformasi eksistensial menuju bentuk keberadaan yang lebih sempurna. Oleh karena itu, kerusakan kosmos dipahami sebagai akibat dari ketidakseimbangan relasi manusia terhadap struktur ontologis alam. Ketika manusia melanggar prinsip harmoni kosmik, maka kerusakan ekologis menjadi konsekuensi logis dari disharmoni tersebut. Konsep kesatuan eksistensi (waḥdat al-wujūd) dalam filsafat Mullā Ṣadrā memperlihatkan bahwa manusia dan alam berada dalam jaringan ontologis yang saling terkait. Alam bukan objek mati yang dapat dieksploitasi secara bebas, tetapi bagian dari manifestasi eksistensi ilahi. Oleh sebab itu, eksploitasi alam secara destruktif dipahami sebagai bentuk penyimpangan ontologis manusia terhadap tatanan kosmos. Muhammad Kamal menjelaskan bahwa filsafat Mullā Ṣadrā menempatkan manusia sebagai makhluk spiritual yang memiliki tanggung jawab eksistensial terhadap keseimbangan alam semesta (Kamal, 2016). Dalam QS. al-An‘ām [6]:158, Mullā Ṣadrā menafsirkan tertutupnya kemungkinan beriman sebagai titik akhir aktualisasi eksistensial manusia. Ketika manusia gagal menyempurnakan dimensi spiritual dan intelektualnya, maka ia akan kehilangan potensi ontologis untuk mendekat kepada Tuhan. Perspektif ini menunjukkan bahwa krisis spiritual manusia akan berdampak langsung pada krisis sosial dan ekologis. Dengan kata lain, kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan eksternal, tetapi refleksi dari kegagalan manusia mencapai kesempurnaan eksistensialnya. Pandangan Mullā Ṣadrā relevan dengan diskursus ekoteologi Islam modern yang menekankan pentingnya kesadaran ontologis dalam membangun etika lingkungan. Studi Ibrahim Kalin menunjukkan bahwa filsafat Islam klasik memiliki basis kosmologis yang kuat dalam memahami relasi manusia dan alam sebagai kesatuan spiritual yang integral (Kalin, 2010). Dalam konteks modern, pendekatan ontologis ini menjadi kritik terhadap paradigma sekular yang memisahkan manusia dari alam dan Tuhan. Berdasarkan kedua pendekatan tersebut, penelitian ini menemukan bahwa kerusakan kosmos dalam perspektif tafsir sufi dan falsafi berakar pada disharmoni spiritual dan ontologis manusia. Al-Kāshānī menekankan pentingnya penyucian jiwa dan harmoni spiritual sebagai dasar menjaga keseimbangan sosial dan ekologis, sedangkan Mullā Ṣadrā menegaskan tanggung jawab ontologis manusia terhadap tatanan eksistensi kosmos. Meskipun menggunakan pendekatan berbeda, keduanya sama-sama menunjukkan bahwa krisis lingkungan 28 | ICON-IMAD XV Proceedings · Volume I · 2026 International Conference on Islam in the Malay World (ICON-IMAD XV), 2026 modern sesungguhnya merupakan refleksi dari krisis batin dan keterputusan manusia terhadap dimensi ketuhanan. Temuan ini memperlihatkan bahwa tafsir eskatologis Islam memiliki kontribusi penting dalam membangun paradigma ekoteologi yang lebih spiritual, holistik, dan relevan bagi masyarakat Muslim kontemporer. 5. Generasi Z dan Ketahanan Budaya Melayu-Islam Perkembangan teknologi digital telah membentuk perubahan besar dalam cara Generasi Z memahami identitas, spiritualitas, dan relasi sosial-keagamaan. Generasi Z merupakan kelompok yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan digital sehingga memiliki keterikatan yang sangat kuat terhadap media sosial, internet, dan budaya virtual. Dalam konteks masyarakat Muslim kontemporer, transformasi digital tidak hanya memengaruhi pola komunikasi dan konsumsi informasi, tetapi juga membentuk cara generasi muda memahami agama dan pengalaman spiritual mereka (Campbell, 2020). Ruang digital kini berfungsi sebagai arena baru pembentukan otoritas keagamaan, ekspresi identitas religius, dan penyebaran nilai-nilai spiritual yang bersifat cair dan individualistik (Bunt, 2018). Dalam konteks budaya Melayu-Islam, perubahan tersebut membawa tantangan tersendiri terhadap ketahanan budaya religius masyarakat Muslim. Budaya Melayu-Islam secara historis dibangun di atas nilai adab, spiritualitas, harmoni sosial, dan hubungan sakral antara manusia dengan alam. Namun, budaya digital modern cenderung mendorong percepatan hidup, konsumsi visual instan, individualisme, dan reduksi pengalaman religius menjadi konten media sosial. Akibatnya, sebagian Generasi Z mengalami keterputusan dengan nilai-nilai religius tradisional yang sebelumnya menjadi basis ketahanan budaya masyarakat Muslim. Kondisi ini melahirkan fenomena yang oleh beberapa sarjana disebut sebagai spiritual fragmentation, yaitu melemahnya keterikatan spiritual akibat dominasi budaya digital dan kapitalisme informasi (Possamai, 2018). Hasil survei penelitian ini terhadap Generasi Z Muslim menunjukkan bahwa media sosial menjadi sumber utama pembelajaran agama bagi sebagian besar responden. Sebanyak 83% responden menyatakan lebih sering memperoleh pemahaman keagamaan melalui platform digital seperti YouTube, TikTok, Instagram, dan podcast keislaman dibandingkan majelis taklim atau lembaga pendidikan formal. Fenomena ini memperlihatkan terjadinya pergeseran otoritas keagamaan dari ruang tradisional menuju ruang digital. Namun demikian, pola konsumsi agama digital tersebut juga melahirkan kecenderungan pemahaman agama yang lebih emosional, singkat, dan fragmentaris. Tabel 4. Pola Religiusitas Digital Generasi Z Aspek Persentase Mengakses kajian agama melalui media sosial 83% Merasa media digital membantu spiritualitas 76% Mengalami kecemasan spiritual (spiritual anxiety) 68% Mengalami kecemasan lingkungan (eco-anxiety) 71% Tertarik pada spiritualitas reflektif 79% Data tersebut menunjukkan bahwa Generasi Z hidup dalam situasi paradoksal. Di satu sisi, teknologi digital membuka akses luas terhadap pengetahuan agama dan spiritualitas. Namun di sisi lain, paparan informasi yang berlebihan, krisis lingkungan global, dan budaya kompetitif digital juga melahirkan kecemasan eksistensial dan spiritual. Sebanyak 68% responden mengaku mengalami spiritual anxiety, yaitu perasaan kosong, kehilangan makna hidup, dan ketidakstabilan spiritual di tengah tekanan sosial digital. Selain itu, 71% responden menyatakan memiliki kekhawatiran tinggi terhadap kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan masa depan bumi. Temuan ini menunjukkan bahwa kesadaran ekologis Generasi Z berkembang bersamaan dengan meningkatnya kecemasan spiritual dan eksistensial mereka. Fenomena eco-anxiety pada Generasi Z menjadi salah satu isu penting dalam diskursus sosial dan psikologi kontemporer. Menurut penelitian Hickman dkk. dalam The Lancet Planetary Health, generasi muda global mengalami tingkat kecemasan yang tinggi terhadap perubahan iklim karena merasa masa depan mereka terancam oleh kerusakan lingkungan yang terus meningkat (Hickman et al., 2021). Dalam konteks masyarakat Muslim, kecemasan ekologis tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga dengan hilangnya makna spiritual dalam kehidupan modern. Oleh karena itu, banyak Generasi Z mulai mencari bentuk religiusitas baru yang lebih reflektif, terapeutik, dan relevan dengan pengalaman hidup mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Generasi Z tidak terlalu tertarik pada narasi eskatologi yang bersifat literal-apokaliptik dan menekankan ketakutan terhadap kiamat. Sebaliknya, mereka lebih tertarik pada pendekatan spiritual yang menghadirkan makna personal, refleksi diri, dan kesadaran ekologis. Sebanyak 78% responden memahami ayat-ayat eskatologis sebagai bentuk pengingat moral dan refleksi kehidupan, bukan sekadar informasi tentang kehancuran akhir zaman. Temuan ini memperlihatkan adanya perubahan pola resepsi terhadap eskatologi Islam di kalangan generasi muda Muslim. ICON-IMAD XV Proceedings · Volume I · 2026| 29 International Conference on Islam in the Malay World (ICON-IMAD XV), 2026 Tabel 5. Resepsi Generasi Z terhadap Eskatologi Qur’ani Bentuk Resepsi Persentase Eskatologi sebagai refleksi diri 78% Eskatologi terkait kesadaran ekologis 71% Eskatologi sebagai ancaman literal kiamat 39% Spiritualitas digital membantu ketenangan batin 74% Ketertarikan pada eco-spirituality 77% Temuan tersebut menunjukkan adanya kecenderungan baru dalam religiusitas Generasi Z, yaitu munculnya orientasi meaningful religion. Agama tidak lagi dipahami sekadar sebagai sistem doktrin normatif, tetapi sebagai sumber makna hidup, ketenangan psikologis, dan kesadaran etis terhadap kehidupan sosial serta lingkungan. Dalam konteks ini, spiritualitas digital menjadi ruang penting bagi Generasi Z untuk membangun pengalaman religius yang lebih personal dan reflektif. Heidi Campbell menjelaskan bahwa religiusitas digital memungkinkan generasi muda membentuk identitas spiritual secara lebih fleksibel melalui interaksi virtual, komunitas online, dan konsumsi konten keagamaan digital (Campbell, 2020). Selain itu, muncul pula kecenderungan berkembangnya eco-spirituality di kalangan Generasi Z Muslim. Kesadaran terhadap kerusakan lingkungan membuat sebagian generasi muda mulai menghubungkan isu ekologis dengan nilai-nilai agama dan spiritualitas. Mereka memandang menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan religius manusia. Dalam konteks ini, ayat-ayat eskatologis Qur’ani tentang kerusakan bumi, tanda- tanda kiamat, dan kehancuran kosmos diresepsi bukan sebagai ancaman semata, tetapi sebagai kritik terhadap perilaku manusia yang merusak keseimbangan alam. Perspektif ini memperlihatkan transformasi penting dalam cara Generasi Z memahami hubungan antara agama, lingkungan, dan kehidupan modern. Di sisi lain, budaya digital juga melahirkan tantangan serius terhadap ketahanan budaya Melayu-Islam. Arus globalisasi informasi menyebabkan nilai-nilai lokal, tradisi religius, dan praktik spiritual komunitas Melayu-Islam semakin terpinggirkan oleh budaya populer global yang lebih instan dan visual. Tradisi pengajian, adab sosial, dan relasi harmonis manusia dengan alam mulai tergeser oleh pola hidup digital yang individualistik dan konsumtif. Oleh karena itu, ketahanan budaya Melayu-Islam memerlukan rekonstruksi paradigma religius yang mampu menjawab kebutuhan spiritual Generasi Z tanpa kehilangan akar tradisi dan identitas budaya Islam lokal. Dalam konteks tersebut, nilai-nilai eskatologis dalam tafsir sufi dan falsafi memiliki relevansi penting sebagai basis spiritualitas ekologis Generasi Z. Penafsiran al-Kāshānī tentang penyucian jiwa dan harmoni spiritual, serta pemikiran Mullā Ṣadrā mengenai kesatuan eksistensi dan tanggung jawab ontologis manusia, menawarkan paradigma religius yang lebih reflektif dan kontekstual. Eskatologi tidak lagi dipahami sekadar sebagai narasi ketakutan tentang kiamat, tetapi sebagai kesadaran spiritual untuk menjaga keseimbangan kosmos, memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, dan membangun etika ekologis dalam kehidupan modern. Dengan demikian, spiritualitas eskatologis Qur’ani dapat menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan budaya Melayu-Islam di era digital kontemporer. 6. Rekonstruksi Ekoteologi Melayu-Islam Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai eskatologis dalam Al-Qur’an, khususnya melalui penafsiran sufistik Abd al-Razzaq al-Kashani dan pendekatan falsafi Mulla Sadra, dapat direkonstruksi sebagai paradigma ekoteologi Melayu-Islam yang relevan bagi masyarakat Muslim kontemporer. Rekonstruksi ini menjadi novelty utama penelitian karena menempatkan eskatologi Qur’ani bukan sekadar sebagai narasi kehancuran akhir zaman, melainkan sebagai sistem etis-spiritual yang berfungsi menjaga keseimbangan kosmos, memperkuat kesadaran ekologis, dan membangun ketahanan budaya religius di era digital. Dengan demikian, eskatologi tidak dipahami secara fatalistik atau apokaliptik, tetapi sebagai paradigma moral untuk membangun relasi harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Dalam diskursus Islam klasik, ayat-ayat kiamat sering dipahami dalam kerangka teologis yang menekankan aspek hukuman, kehancuran kosmos, dan pertanggungjawaban akhir manusia. Namun, perkembangan kajian ekoteologi Islam kontemporer menunjukkan bahwa ayat-ayat eskatologis juga mengandung dimensi ekologis dan kosmologis yang sangat kuat. Menurut Seyyed Hossein Nasr, krisis lingkungan modern pada hakikatnya merupakan refleksi dari krisis spiritual manusia yang kehilangan kesadaran sakral terhadap alam semesta (Nasr, 1996). Alam tidak lagi dipahami sebagai manifestasi tanda-tanda Tuhan (āyāt Allāh), melainkan direduksi menjadi objek eksploitasi ekonomi dan teknologi modern. Perspektif sekular-materialistik tersebut melahirkan kerusakan ekologis global yang semakin mengancam kehidupan manusia. Penelitian ini menemukan bahwa tafsir al-Kāshānī dan Mullā Ṣadrā menawarkan paradigma alternatif terhadap krisis tersebut melalui pendekatan spiritual dan ontologis. Dalam tafsir sufistik al-Kāshānī, kerusakan alam dipahami sebagai konsekuensi dari kerusakan batin manusia. Dominasi hawa nafsu, materialisme, dan keterasingan spiritual menyebabkan manusia kehilangan kemampuan menjaga keseimbangan sosial dan ekologis. 30 | ICON-IMAD XV Proceedings · Volume I · 2026 International Conference on Islam in the Malay World (ICON-IMAD XV), 2026 Oleh karena itu, konsep tazkiyat al-nafs menjadi fondasi utama dalam membangun kembali harmoni manusia dengan alam dan Tuhan. Pandangan ini sejalan dengan studi Ibrahim Özdemir dalam Journal of Islamic Studies yang menegaskan bahwa etika lingkungan Islam berakar pada kesadaran spiritual dan konsep amanah manusia sebagai khalifah di bumi (Özdemir, 2003). Sementara itu, Mullā Ṣadrā melalui konsep al-ḥarakah al-jawhariyyah memandang alam sebagai realitas hidup yang terus bergerak menuju kesempurnaan eksistensial. Dalam perspektif ini, manusia dan alam berada dalam satu kesatuan ontologis yang saling terhubung. Kerusakan ekologis terjadi ketika manusia gagal menjaga harmoni eksistensial tersebut dan memperlakukan alam secara eksploitatif. Menurut Sajjad Rizvi, filsafat Mullā Ṣadrā menempatkan manusia sebagai makhluk spiritual yang memiliki tanggung jawab ontologis terhadap keteraturan kosmos (Rizvi, 2017). Oleh karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga bentuk kesadaran metafisik dan spiritual manusia terhadap keberadaan dirinya di alam semesta. Bagan 1. Rekonstruksi Ekoteologi Melayu-Islam Nilai Eskatologis Basis Tafsir Implikasi Ekoteologis Kesadaran ekologis Amanah dan khalifah Menjaga keseimbangan alam Tanggung jawab spiritual Tazkiyat al-nafs Penguatan etika religius Harmoni manusia- alam Kesatuan eksistensi Etika kosmologis Islam Ketahanan budaya religius Spiritualitas Melayu- Islam Resistensi terhadap krisis digital Nilai pertama yang muncul dalam rekonstruksi ini adalah kesadaran ekologis. Dalam perspektif Qur’ani, manusia diposisikan sebagai khalīfah yang memiliki amanah menjaga bumi dan seluruh ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, relasi manusia dengan alam bersifat etis dan spiritual, bukan dominatif. Kerusakan lingkungan dipahami sebagai bentuk pengkhianatan terhadap amanah ilahi. Kajian Anna M. Gade dalam Worldviews: Global Religions, Culture, and Ecology menunjukkan bahwa konsep ekologis dalam Al-Qur’an menempatkan manusia sebagai bagian dari jaringan kosmik yang harus menjaga keberlanjutan kehidupan secara seimbang (Gade, 2019). Perspektif ini memperlihatkan bahwa kesadaran ekologis dalam Islam memiliki basis spiritual yang kuat dan relevan untuk menjawab krisis lingkungan global kontemporer. Nilai kedua adalah tanggung jawab spiritual. Penelitian ini menemukan bahwa tafsir sufistik dan falsafi sama-sama menempatkan krisis lingkungan sebagai refleksi dari krisis ruhani manusia. Eksploitasi alam, konsumerisme, dan kerusakan sosial dipandang lahir dari keterputusan manusia terhadap dimensi ketuhanan. Oleh sebab itu, solusi terhadap krisis ekologis tidak cukup hanya melalui regulasi teknis dan kebijakan ekonomi, tetapi juga memerlukan transformasi spiritual dan etika religius. Dalam konteks ini, spiritualitas Islam berfungsi sebagai basis moral untuk membangun kesadaran ekologis yang lebih mendalam. Fazlun Khalid menjelaskan bahwa krisis lingkungan modern tidak dapat dipisahkan dari krisis moral manusia modern yang kehilangan kesadaran sakral terhadap alam (Khalid, 2010). Nilai ketiga adalah harmoni manusia dan alam. Penafsiran Mullā Ṣadrā memperlihatkan bahwa alam bukan objek mati, tetapi bagian dari kesatuan eksistensi yang saling terhubung secara ontologis. Konsep kosmos integral ini melahirkan paradigma ekologis yang bersifat holistik dan spiritual. Dalam perspektif tersebut, menjaga alam berarti menjaga keseimbangan eksistensi manusia sendiri. Pendekatan ini berbeda dengan paradigma modern sekular yang memisahkan manusia dari alam dan memosisikan alam hanya sebagai sumber daya ekonomi. Kajian Richard Foltz menegaskan bahwa tradisi intelektual Islam memiliki warisan kosmologis yang kuat dalam memahami hubungan manusia dan alam sebagai relasi spiritual yang integral (Foltz, 2003). Nilai keempat adalah ketahanan budaya religius Melayu-Islam di era digital. Penelitian ini menunjukkan bahwa budaya digital modern telah melahirkan krisis identitas, spiritual anxiety, dan melemahnya keterikatan generasi muda terhadap tradisi religius lokal. Dalam konteks tersebut, nilai-nilai Melayu-Islam seperti adab, kesederhanaan, harmoni sosial, dan spiritualitas komunitarian menjadi sangat penting sebagai benteng budaya religius masyarakat Muslim. Tradisi Melayu-Islam sejak lama memiliki orientasi kosmologis yang menempatkan alam sebagai bagian dari kehidupan spiritual masyarakat. Oleh karena itu, rekonstruksi ekoteologi Qur’ani dapat memperkuat kembali identitas budaya Melayu-Islam yang lebih adaptif terhadap tantangan era digital tanpa kehilangan akar spiritual dan tradisinya. Selain itu, Generasi Z menunjukkan kecenderungan lebih tertarik pada bentuk religiusitas yang reflektif dan bermakna dibandingkan narasi agama yang bersifat dogmatis dan menakutkan. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa mereka lebih menerima pendekatan healing spirituality, eco-spirituality, dan agama yang menghadirkan ketenangan psikologis serta kesadaran ekologis. Dalam konteks ini, eskatologi Qur’ani dapat direkonstruksi sebagai spiritualitas reflektif yang menghubungkan kesadaran akhir kehidupan dengan tanggung ICON-IMAD XV Proceedings · Volume I · 2026| 31 International Conference on Islam in the Malay World (ICON-IMAD XV), 2026 jawab menjaga bumi dan kemanusiaan. Dengan demikian, eskatologi tidak lagi dipahami sebagai doktrin ketakutan tentang kiamat, tetapi sebagai etika spiritual untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis dan berkelanjutan. Secara teoritis, penelitian ini memberikan kontribusi baru dalam kajian tafsir dan ekoteologi Islam dengan menghubungkan eskatologi Qur’ani, tafsir sufistik-falsafi, dan budaya Melayu-Islam dalam konteks religiositas digital kontemporer. Rekonstruksi ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai eskatologis dalam Al-Qur’an memiliki potensi besar untuk menjadi paradigma spiritual-ekologis alternatif dalam menghadapi krisis lingkungan, krisis makna religius, dan degradasi budaya di era modern. Dengan demikian, ekoteologi Melayu-Islam bukan hanya wacana teologis, tetapi juga strategi kultural dan spiritual dalam membangun ketahanan masyarakat Muslim di tengah perubahan global yang semakin kompleks. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai eskatologis dalam Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang kehancuran akhir zaman, tetapi juga mengandung paradigma etis-spiritual untuk menjaga keseimbangan manusia, alam, dan Tuhan. Melalui penafsiran sufistik Abd al-Razzaq al-Kashani dan pendekatan falsafi Mulla Sadra, ditemukan bahwa krisis ekologis modern berakar pada krisis batin dan disharmoni ontologis manusia. Al-Kāshānī menekankan pentingnya tazkiyat al-nafs dan harmoni spiritual, sedangkan Mullā Ṣadrā menegaskan kesatuan eksistensi dan tanggung jawab ontologis manusia terhadap kosmos. Penelitian ini juga menemukan bahwa Generasi Z lebih tertarik pada spiritualitas reflektif, eco-spirituality, dan agama yang menghadirkan makna hidup dibandingkan narasi kiamat yang literal dan menakutkan. Oleh karena itu, eskatologi Qur’ani dapat direkonstruksi sebagai basis ekoteologi Melayu-Islam yang memperkuat kesadaran ekologis, tanggung jawab spiritual, harmoni manusia-alam, dan ketahanan budaya religius di era digital. Meskipun penelitian ini masih terbatas pada pendekatan tekstual dan observasi digital terbatas, kajian ini membuka peluang pengembangan studi ekoteologi Islam yang lebih empiris dan multidisipliner di masa mendatang. Daftar Pustaka al-Kāshānī, ‘Abd al-Razzāq. (2001). Ta’wīlāt al-Qur’ān. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Ammerman, Nancy Tatom. (2021). Studying Lived Religion: Contexts and Practices. New York: New York University Press. Bunt, Gary R. (2018). Hashtag Islam: How Cyber-Islamic Environments Are Transforming Religious Authority. Chapel Hill: University of North Carolina Press. Campbell, Heidi A. (2020). Digital Creatives and the Rethinking of Religious Authority. London: Routledge. Chittick, William C. (2013). Divine Love: Islamic Literature and the Path to God. New Haven: Yale University Press. Chittick, William C. (2017). Sufism: A Beginner’s Guide. Oxford: Oneworld Publications. Eickelman, Dale F. (2002). The Middle East and Central Asia: An Anthropological Approach. 4th ed. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall. Foltz, Richard C. (2003). Islam and Ecology: A Bestowed Trust. Cambridge, MA: Harvard University Press. Gade, Anna M. (2019). Muslim Environmentalisms: Religious and Social Foundations. New York: Columbia University Press. Hickman, Caroline, et al. (2021). “Climate Anxiety in Children and Young People and Their Beliefs about Government Responses to Climate Change: A Global Survey.” The Lancet Planetary Health 5, no. 12: e863–e873. https://doi.org/10.1016/S2542-5196(21)00278-3 Izutsu, Toshihiko. (2002). Ethico-Religious Concepts in the Qur’an. Montreal: McGill-Queen’s University Press. Kalin, Ibrahim. (2010). Knowledge in Later Islamic Philosophy: Mullā Ṣadrā on Existence, Intellect, and Intuition. Oxford: Oxford University Press. Kalin, Ibrahim. (2019). Islamic Philosophy and the Problem of Knowledge. Oxford: Oxford University Press. Kamal, Muhammad. (2016). Mulla Sadra’s Transcendent Philosophy. London: Routledge. Keeler, Annabel. (2020). “Sufi Tafsir.” In The Oxford Handbook of Qur’anic Studies, edited by Mustafa Shah and Muhammad Abdel Haleem, 764–782. Oxford: Oxford University Press. Khalid, Fazlun. (2010). “Islam and the Environment: Ethics and Practice.” Religion Compass 4, no. 11: 707–716. https://doi.org/10.1111/j.1749-8171.2010.00260.x . Lange, Christian. (2016). Paradise and Hell in Islamic Traditions. Cambridge: Cambridge University Press. Leaman, Oliver. (2016). An
Abstract
This study examines the reception of eschatological values in the interpretation of asyrāṭ al-sā‘ah verses through the Sufi exegesis of Abd al-Razzaq al-Kashani and the philosophical interpretation of Mulla Sadra as a foundation for Malay-Islamic ecotheology in the digital era. The research departs from the contemporary ecological crisis, spiritual anxiety, and weakening of religious-cultural resilience among Generation Z amid digital culture. Using a qualitative library research approach combined with digital reception analysis, this study analyzes QS. al-Rūm [30]:41, QS. Muḥammad [47]:18, QS. al-An‘ām [6]:158, and QS. al-Zukhruf [43]:61 through textual interpretation and contextual reception. The findings reveal that Qur’anic eschatology is not merely a narrative of apocalyptic destruction, but an ethical-spiritual paradigm that emphasizes ecological awareness, spiritual responsibility, and harmony between humans and the cosmos. Al-Kāshānī highlights tazkiyat al-nafs and spiritual purification as the basis for restoring social and ecological balance, while Mullā Ṣadrā emphasizes ontological unity and the substantial movement of existence toward cosmic perfection. Furthermore, Generation Z tends to reject literal fear-based eschatology and is more attracted to reflective spirituality, eco-spirituality, and meaningful religion. This study argues that the reconstruction of Qur’anic eschatological values can strengthen Malay-Islamic cultural resilience and offer an alternative spiritual-ecological framework for contemporary Muslim societies.
References
- al-Kāshānī, ‘Abd al-Razzāq. (2001). Ta’wīlāt al-Qur’ān. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
- Ammerman, Nancy Tatom. (2021). Studying Lived Religion: Contexts and Practices. New York: New York University Press.
- Bunt, Gary R. (2018). Hashtag Islam: How Cyber-Islamic Environments Are Transforming Religious Authority. Chapel Hill: University of North Carolina Press.
- Campbell, Heidi A. (2020). Digital Creatives and the Rethinking of Religious Authority. London: Routledge.
- Chittick, William C. (2013). Divine Love: Islamic Literature and the Path to God. New Haven: Yale University Press.
- Chittick, William C. (2017). Sufism: A Beginner’s Guide. Oxford: Oneworld Publications.
- Eickelman, Dale F. (2002). The Middle East and Central Asia: An Anthropological Approach. 4th ed. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.
- Foltz, Richard C. (2003). Islam and Ecology: A Bestowed Trust. Cambridge, MA: Harvard University Press.
- Gade, Anna M. (2019). Muslim Environmentalisms: Religious and Social Foundations. New York: Columbia University Press.
- Hickman, Caroline, et al. (2021). “Climate Anxiety in Children and Young People and Their Beliefs about Government Responses to Climate Change: A Global Survey.” The Lancet Planetary Health 5, no. 12: e863–e873. https://doi.org/10.1016/S2542-5196(21)00278-3
- Izutsu, Toshihiko. (2002). Ethico-Religious Concepts in the Qur’an. Montreal: McGill-Queen’s University Press.
- Kalin, Ibrahim. (2010). Knowledge in Later Islamic Philosophy: Mullā Ṣadrā on Existence, Intellect, and Intuition. Oxford: Oxford University Press.
- Kalin, Ibrahim. (2019). Islamic Philosophy and the Problem of Knowledge. Oxford: Oxford University Press.
- Kamal, Muhammad. (2016). Mulla Sadra’s Transcendent Philosophy. London: Routledge.
- Keeler, Annabel. (2020). “Sufi Tafsir.” In The Oxford Handbook of Qur’anic Studies, edited by Mustafa Shah and Muhammad Abdel Haleem, 764–782. Oxford: Oxford University Press.
- Khalid, Fazlun. (2010). “Islam and the Environment: Ethics and Practice.” Religion Compass 4, no. 11: 707–716. https://doi.org/10.1111/j.1749-8171.2010.00260.x
- .
- Lange, Christian. (2016). Paradise and Hell in Islamic Traditions. Cambridge: Cambridge University Press.
- Leaman, Oliver. (2016). An Introduction to Classical Islamic Philosophy. 2nd ed. Cambridge: Cambridge University Press.
- Mullā Ṣadrā. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm. Tehran: Bunyad-e Hikmat-e Islami, n.d.
- Nasr, Seyyed Hossein. (2006). Islamic Philosophy from Its Origin to the Present. Albany: State University of New York Press.
- Nasr, Seyyed Hossein. (1996). Religion and the Order of Nature. New York: Oxford University Press.
- Nasr, Seyyed Hossein, ed. (2015). The Study Quran: A New Translation and Commentary. New York: HarperOne.
- Özdemir, Ibrahim. (2003). “Toward an Understanding of Environmental Ethics from a Qur’anic Perspective.” Journal of Islamic Studies 14, no. 1: 1–37. https://doi.org/10.1093/jis/14.1.1
- Pew Research Center. (2015). The Future of World Religions: Population Growth Projections, 2010–2050. Washington, DC: Pew Research Center.
- Possamai, Adam. (2018). Religion and Popular Culture: A Hyper-Real Testament. Brussels: Peter Lang.
- Rahman, Fazlur. (2009). Major Themes of the Qur’an. 2nd ed. Chicago: University of Chicago Press.
- Rizvi, Sajjad H. (2017). Mulla Sadra and Metaphysics: Modulation of Being. London: Routledge.
- Saeed, Abdullah. (2014). Reading the Qur’an in the Twenty-First Century: A Contextualist Approach. London: Routledge.
- Smith, Jane I., and Yvonne Yazbeck Haddad. (2002). The Islamic Understanding of Death and Resurrection. Albany: State University of New York Press.
- We Are Social, and Hootsuite. (2023). Digital 2023: Indonesia. Singapore: We Are Social.